Awal tahun 2026 jadi panggung euforia baru bagi pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menembus level psikologis 9.000 secara intraday pada perdagangan Kamis, 8 Januari 2026—sebuah capaian yang selama ini dianggap “gerbang” menuju fase reli berikutnya. Okezone melaporkan IHSG sempat berada di 9.001,84 sekitar pukul 10.00 WIB, lalu mencetak rekor All Time High (ATH) 9.002,92 pada pukul 10.29 WIB.
Meski pergerakan indeks setelahnya bisa tetap fluktuatif (hal yang wajar ketika menyentuh angka bulat besar), momen tembus 9.000 punya arti penting: ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal bahwa minat beli dan optimisme pelaku pasar sedang sangat kuat.
“Tembus 9.000” itu bukan kebetulan: reli dibangun dari rekor ke rekor
Sebelum menyentuh 9.000, IHSG sudah lebih dulu mencetak rekor penutupan baru. Pada Selasa, 6 Januari 2026, IHSG ditutup menguat 0,84% ke 8.933,61—rekor tertinggi saat itu—yang menjadi pijakan menuju level psikologis berikutnya.
Pola seperti ini biasanya mencerminkan reli yang “bertahap”: pasar menguat, sempat konsolidasi tipis, lalu melanjutkan kenaikan ketika ada katalis tambahan. Ketika akhirnya 9.000 tersentuh, momentum tersebut terlihat didukung kombinasi faktor global, domestik, hingga dinamika rotasi sektor.
1) Lonjakan likuiditas dan transaksi: uangnya benar-benar masuk
Saat indeks memecah rekor, biasanya yang terjadi bukan hanya kenaikan harga, tetapi juga lonjakan aktivitas transaksi. Okezone mencatat nilai transaksi pagi itu mencapai Rp11,17 triliun dari 20,33 miliar saham dengan sekitar 1,6 juta kali transaksi.
Sementara Katadata (mengutip data perdagangan BEI) menuliskan pada sesi pertama, volume transaksi mencapai 32,33 miliar saham dengan frekuensi 2,32 juta kali, dan kapitalisasi pasar berada di sekitar Rp16.434 triliun.
Besarnya transaksi ini penting karena menunjukkan reli bukan sekadar “tipis” atau hanya digerakkan segelintir saham—melainkan terjadi dalam suasana pasar yang aktif, dengan partisipasi yang luas.
2) Komoditas kembali jadi bahan bakar—logam, minyak, hingga energi
Salah satu pendorong klasik IHSG adalah sektor berbasis komoditas. Pada 6 Januari, Republika menuliskan IHSG menguat seiring menguatnya harga komoditas logam global, dan riset Phintraco Sekuritas juga menyebut insentif pemerintah ikut menjadi faktor positif pergerakan indeks.
Beritasatu menambahkan perspektif menarik: ada dorongan FOMO institusi serta sentimen kenaikan harga komoditas seperti minyak dan emas (dengan latar isu geopolitik yang ikut diperhatikan pasar).
Ketika komoditas menguat, dampaknya terasa besar di IHSG karena bobot sejumlah emiten sektor energi dan bahan baku cukup dominan, dan sering menjadi “lokomotif” saat arus dana mencari saham-saham yang dianggap paling diuntungkan oleh siklus harga global.
3) Rotasi sektor: bukan semua saham naik, tapi ada “giliran” yang terstruktur
Menariknya, ketika IHSG mencetak sejarah, tidak semua kelompok saham bergerak searah. Katadata mencatat pada sesi pertama 8 Januari, sektor energi menguat secara sektoral, sementara beberapa saham emiten emas justru mengalami tekanan pada saat yang sama.
Fenomena ini umum terjadi dalam reli besar: investor melakukan rotasi—sebagian mengambil untung dari sektor yang sudah naik duluan, lalu memindahkan dana ke sektor lain yang dianggap masih punya ruang. Rotasi yang sehat sering membuat kenaikan indeks lebih “tahan lama” karena penguatannya tidak bergantung pada satu kelompok saja.
4) Ekspektasi suku bunga: pasar mulai menghitung era biaya dana lebih rendah
Selain komoditas, faktor besar lain adalah ekspektasi arah suku bunga. Kontan menuliskan bahwa salah satu pendorong optimisme IHSG pada 2026 adalah pelonggaran suku bunga acuan, termasuk potensi ruang penurunan cost of fund yang bisa mendorong ekspansi kredit dan aktivitas ekonomi, serta narasi terkait The Fed yang diperkirakan hanya memangkas FFR satu kali pada 2026 berdasarkan economic projection yang mereka sebutkan.
Sederhananya: ketika pasar percaya suku bunga akan lebih ramah, valuasi saham cenderung lebih mudah “diterima”, terutama pada sektor yang sensitif terhadap bunga seperti keuangan, properti, dan teknologi—sejalan dengan catatan Kontan bahwa sektor-sektor sensitif suku bunga patut dicermati dalam konteks tersebut.
Suara Surabaya (mengutip Antara) juga menekankan bahwa pelaku pasar lebih fokus pada faktor fundamental seperti arah kebijakan suku bunga global (ekspektasi penurunan suku bunga The Fed), stabilitas kebijakan domestik, kinerja laba emiten big caps, dan pergerakan komoditas seperti minyak dan emas.
5) “Kekuatan lokal” makin dominan: basis investor membesar, pasar jadi lebih tahan guncangan
Ada perubahan struktural yang ikut memperkuat reli: peran investor domestik yang makin besar. Kontan menyebut jumlah investor Indonesia sudah mencapai 19,19 juta SID, dan porsi kepemilikan lokal mencapai sekitar 60,9% per Oktober 2025—menjadi sinyal bahwa pasar semakin ditopang dana domestik.
Dalam situasi seperti ini, IHSG sering kali lebih “tahan banting” ketika ada sentimen eksternal, karena arus dana tidak sepenuhnya bergantung pada investor asing. Kontan juga mencatat selama enam bulan terakhir terjadi inflow asing Rp35 triliun yang disertai tren pergeseran ke saham blue chip.
Kombinasi dominasi lokal + inflow asing yang selektif membuat reli terasa lebih solid: ada penopang dari dalam negeri, tetapi tetap ada amunisi tambahan ketika global risk-on.
6) Risiko setelah euforia: profit taking dan “uji ulang” level 9.000
Setiap kali indeks menembus angka psikologis besar, ada dua risiko yang wajar muncul:
-
Profit taking cepat: sebagian pelaku pasar menjual setelah target besar tercapai.
-
Uji ulang (retest): IHSG bisa kembali turun menguji area dukungan di bawah 9.000 sebelum memantapkan tren naik.
Bahkan sebelum 9.000 benar-benar tersentuh, Beritasatu sudah mengingatkan peluang menyentuh 9.000 intraday tetap disertai potensi ambil untung. Ini bukan pertanda buruk—justru koreksi wajar sering dibutuhkan agar tren kenaikan lebih sehat.
Kesimpulan
IHSG menembus 9.000 intraday pada 8 Januari 2026 bukan terjadi karena satu pemicu tunggal, melainkan hasil dari kombinasi katalis: lonjakan transaksi dan likuidita, dorongan komoditas serta sentimen global, ekspektasi suku bunga yang lebih mendukung, dan penguatan basis investor domestik yang membuat pasar lebih kuat secara struktural.
Ke depan, tantangan utamanya adalah konsistensi: apakah IHSG mampu bertahan di area 9.000 atau perlu konsolidasi dulu. Apa pun jalurnya, satu hal jelas—pasar saham Indonesia sedang memasuki fase yang sangat menarik dan patut dipantau dengan strategi serta manajemen risiko yang disiplin.